01 Januari 2008

Berburu Emas di Olimpiade Sains Nasional

Olimpiade bukan cuma di Athena lho. Selasa (24/8) ini sampai Minggu (29/8) di Pekanbaru, Riau juga ada olimpiade. Namanya Olimpiade Sains Nasional (OSN). Basi aja kalo Belia nggak tau. At least, pernah dengerlah. Ini adalah kali kedua OSN diselenggarakan. OSN tahun 2003 lalu diadakan di Balikpapan, Kalimantan Timur. Seperti layaknya olimpiade seperti Athena 2004, di OSN diperebutkan medali emas, perak, dan perunggu. Tahun lalu, Thomas Alva Edison dari SMAN 3 Bandung berhasil menyabet medali emas untuk bidang fisika.

Sama seperti OSN 2003, kegiatan ini bertujuan mencari pelajar-pelajar unggulan untuk mewakili Indonesia pada olimpiade-olimpiade sains internasional. Maklum aja. Salah satu syarat untuk mengirimkan tim ke olimpiade internasional adalah mengadakan seleksi dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.

Selain itu, tujuannya tentu saja juga untuk menggairahkan metode pengajaran sains di sekolah-sekolah. Untuk yang satu ini, sebagai solusi atas sulitnya siswa SD, SMP, dan SMA mencerna soal-soal OSN, 500 guru dari 30 provinsi sepakat membentuk jaringan informasi sains. Jaringan ini menjadi wahana tukar-menukar informasi antarsekolah sehingga guru dan murid mampu mengakrabkan diri dengan soal-soal standar olimpiade. Itu rekomendasi Simposium Nasional Guru-Guru Pendamping Olimpiade Sains Nasional di Balikpapan, Kalimantan Timur tanggal 17 September 2003 lalu.

Sekadar intermezzo, The First International Junior Science Olympiad (IJSO) untuk pertama kalinya akan diadakan dalam sejarah olimpiade sains internasional. Ini adalah olimpiade sains tingkat internasional untuk jenjang SMP. IJSO diprakarsai oleh Indonesia dan rencananya bakal digelar di Jakarta, 5-14 Desember 2004. Sebanyak 72 negara diundang dan sudah ada 17 negara yang memastikan ikut.

Dari berbagai wilayah di Tanah Air, dua belas pelajar sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) sudah terpilih mewakili Indonesia. Mereka adalah Stephani Senna (SLTP IPEKA Tomang, Jakarta), Aziz Adi Suyono (SLTPN 9 Cilacap, Jateng), Diptarama (SLTPN 252 Jakarta), Achmad Furqon (SMP Bina Insan Bogor, Jabar), Ria Ayu P (Madrasah Tsanawiyah Negeri I Malang, Jatim), Andika Afriansyah (SLTP Nusantara Makassar, Sulsel), William (SLTP Sutomo Medan, Sumut), Wayan Wicak (SLTPN I Bekasi, Jabar), C Jessica (SLTP Xaverius I Palembang, Sumsel), Dewi Kusumastuti (SLTPN I Seputih, Lampung), Petrus Yesaya (SLTPN II Jayapura, Papua) dan F Putri (SLTP Kuala Kencana, Papua).

Sementara, OSN 2004 yang dimulai hari ini diikuti sebanyak 840 siswa SD, SMP, dan SMA dari seluruh provinsi di Indonesia. Pada jenjang SD akan diperlombakan bidang studi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pada jenjang SMP, diperlombakan bidang Matematika, Fisika, dan Biologi. Sedangkan pada jenjang SMA yang diperlombakan adalah bidang Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Komputer, dan Informatika. Jumlah peserta jenjang SD tercatat 120, SMP 270, dan SMA 450 siswa. Tahun ini, tim dari Provinsi Jawa Barat nggak sedikit loh. Kita boleh bangga. Untuk jenjang SMA, sebanyak 38 pelajar dari berbagai SMA negeri dan swasta di Jawa Barat terpilih untuk berkompetisi di OSN II 2004.

Di bidang biologi ada Dita Adi Septianita (SMAN 1 Bogor), Rika Novayanti (SMAN 1 Bogor), Nanda Puspa Dewi (SMAN 1 Cirebon), Hendy Kristyanto (SMAN 1 Depok), Hana Nur Fitriana (SMAN 1 Karangnunggal), Muhamad Daud F. (SMAN 3 Bandung), dan Siska Widya Dewi (SMAN 3 Bandung).

Di bidang Fisika ada Yusuf Purna Yudhanta (SMAN 1 Cikampek), M. Bintang Hadi P. (SMAN 3 Bandung), Melania Testudinaria (SMAN 3 Bandung), Teguh Frimansyah (SMAN 3 Bandung), Yenny Wijaya (SMA Ananda), dan Michael Ardian (SMA Regina Pacis Bogor).

Andre Raymond (SMAN 3 Bandung), Haryo Prabowo (SMAN 3 Bandung), Ikhsan Fanani (SMAN 3 Bandung), Laura Maria (SMAN 3 Bandung), Irfan Hendrian (SMAN 5 Bandung), Martinus Andy (SMA St. Aloysius Bandung), dan Ray Sugiarto (SMA St. Aloysius Bandung) mengikuti kompetisi di bidang informatika.

Di bidang kimia ada Arief Nugraha (SMAN 1 Bogor), Tiara Puspasarini (SMAN 1 Tasikmalaya), Endang Ciptawati (SMAN 2 Cirebon), Aziz Adharis (SMAN 3 Bandung), Dian Anggraeni (SMAN 3 Bandung).

Satrio Adi Rukmono (SMAN 1 Depok), Eric Dacu (SMAN 1 BPK Penabur), Ricky Leorenta (SMA Marsudirini), dan Wildan Rachman (Pesantren Al Bayan) bakal berkompetisi di bidang komputer.

Sementara yang bakal uji kemampuan di bidang matematika adalah Irna Rosmayanti (SMAN 1 Bale Endah), Arya Panji Pamuncak (SMAN 1 Bogor), Rahmat Hidayat (SMAN 1 Cibeber), Arita Primandini A. (SMAN 3 Bandung), Gea Yugiyagama (SMAN 3 Bandung), Eko Herjuo (SMAN 5 Bogor), Fuad Fajri (SMA Hayatan Thayiban), Evan Pujonggo (SMA Mutiara 17 Agustus), Evan (SMAK Trimulia).

Penghargaan

Sebenarnya, nggak sekadar medali emas, perak, dan perunggu yang bakal diberikan kepada masing-masing pemenang. Pemenang Olimpiade Sains Nasional bidang Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Komputer dan Informatika, masing-masing bakal diberi keleluaasan untuk memilih tujuh perguruan tinggi negeri (PTN): Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Hal yang sama juga berlaku bagi juara Olimpiade Sains Internasional. Mereka mendapat beasiswa secara penuh untuk melanjutkan S-1 dari beberapa negara seperti Jepang, Kanada dan, Singapura.

Tanggal 18 Agustus lalu Depdiknas sendiri menandatangani kesepakatan dengan Sampoerna Foundation untuk memberikan beasiswa bernilai total Rp 1 miliar kepada 25 juara OSN II 2004. Secara khusus --kalau nggak ada perubahan kesepakatan antara Depdiknas dan Sampoerna Foundation-- siswa SMA yang meraih medali emas pada OSN II 2004 dibebaskan dari uang kuliah saat melanjutkan ke perguruan tinggi. Untuk program S-1, masing-masing pemenang akan mendapat sekira Rp 50 juta (4-5 tahun masa kuliah) dari Sampoerna Foundation, mencakup biaya hidup, buku dan biaya yang berkaitan dengan studi. Walau peraih medali emas masih saat ini tidak duduk di kelas 3 SMA, beasiswa itu tetap berlaku di tahun studi saat mereka masuk perguruan tinggi. Wow!

Nggak heran ketika ditanya kru belia soal target OSN Teguh Firmansyah, siswa kelas 3 SMAN 3 Bandung (Fisika) dengan pede menjawab: emas! "Emas itu kan simbol. Di belakangnya yang seru seperti beasiswa dan macam-macam," tambahnya.

Evan, siswa kelas 2 SMA Trimulya Bandung (Matematika) menjawab dengan diplomatis. "Saya akan berusaha semaksimal mungkin," katanya. Evan ini ternyata juara Olimpiade Astronomi Nasional tahun 2003 lalu, loh. Malah bulan September ntar dia akan berangkat ke Ukraina untuk mengikuti Olimpiade Astronomi Internasional. Selain Evan, dari Jawa Barat ada Jayawijaya Ningtias, siswi kelas 1 SMAN 3 Bandung, pemenang medali emas Olimpiade Astronomi Nasional 2004. Dobel dong persiapannya? "Iya. Berat juga sih. Tapi kemarin udah ikut pembekalan khusus selama sebulan di Boscha."

Sementara Ray Sugianto, siswa kelas 3 SMA St. Aloysius Bandung punya target ikut Olimpiade Informatika Internasional. "Saya pengen seperti kakak saya," ucapnya. Asal tau aja. Kakak Ray adalah Randy Sugianto, peraih medali perunggu di ajang tersebut di Korea dua tahun lalu. Randy lantas mendapat beasiswa dari Nanyang Technology University untuk berkuliah di sana. Ray sendiri sama sekali nggak ragu menerima jika diberi jaminan beasiswa dan bahkan bekerja di luar negeri. "Mau banget."

Sayang benernya kalau pahlawan nasional Olimpiade Sains Internasional (OSI) justru memilih berkarya di luar negeri. Tapi, kalau nggak ada penghargaan dan jaminan melanjutkan ke pendidikan tinggi bahkan bekerja, nggak salah juga. Makanya, perlu dipikirin kriteria dan mekanisme pemberian beasiswa oleh pemerintah dan siapapun yang ingin terlibat. Jangan sampai mereka merasa ditelantarkan dan nggak dihargai seperti yang dialami oleh beberapa pemenang OSN yang sudah-sudah. PTN terkait sudah saatnya memikirkan penghargaan dengan membiarkan mereka masuk tanpa tes. Dari tujuh PTN di atas, baru IPB yang menyanggupi.

Soal jaminan ini juga jadi pertanyaan mereka yang terkait dengan (calon) peserta. Tahun lalu, ada kepala sekolah yang mengeluh karena siswanya nggak mau ikut olimpiade sains khawatir nggak lolos ujian SPMB karena sibuk mempersiapkan diri untuk olimpiade sains. Pada pertemuan di SMAN 3 Bandung antara para peserta OSN, pihak sekolah, dan pihak orang tua (21/8), salah seorang orang tua peserta menanyakan jaminan tersebut. "Anak saya kan nggak masuk sekolah untuk persiapan. Bagaimana dengan nilainya di sekolah ini dan kesempatan tembus PTN?" Syukurlah pihak sekolah memberi jaminan. Malah yang sudah-sudah, alumni OSN berhasil masuk ke PTN yang mereka inginkan. Pilihan pertama pula!

Sebenarnya kalau ada penghargaan semacam itu, OSN semakin punya daya tarik, kan? C'mon, it's about time! Memang bidang-bidang yang diuji populer karena susahnya. Tapi, ini saatnya untuk nggak alergi sama pelajaran-pelajaran itu!*** brahma_belia@yahoo.com

Pikiran Rakyat

[+/-] Selengkapnya...

Indonesia Juara Olimpiade Sains Junior Internasional

JAKARTA, (PR).- Kontingen olimpiade sains Indonesia berhasil meraih juara umum pada ajang Olimpiade Sains Junior Internasional (International Junior Science Olympiad, IJSO) I yang berlangsung di Jakarta. Indonesia yang menurunkan dua tim beranggotakan 12 siswa itu merebut delapan emas, empat perak, dan tiga penghargaan untuk kategori the best experimental winner, absolute winner, dan overall winner.

Peringkat kedua diduduki kontingen dari Taiwan dengan meraih empat medali emas, satu medali perak, dan satu penghargaan berupa the best theoretical winner atas nama Hui Ju Chiang. Selanjutnya, untuk peringkat ketiga diraih kontingen Thailand dengan memperoleh dua medali emas dan empat perak. Posisi keempat, Korea Selatan dengan satu emas, tiga perak, dan dua perunggu, Rusia dengan satu emas, satu perak, dan tiga perunggu, serta Kazakhstan dengan satu emas dan satu perak.

IJSO I yang berlangsung di Jakarta 5-13 Desember 2004 merupakan ajang kompetisi sains tingkat SLTP yang pertama kali digelar di dunia atas inisiatif Indonesia. Sebanyak 181 peserta dari 30 negara Asia, Eropa, dan Afrika turut serta dalam ajang yang rencananya akan digelar setiap tahun tersebut.

"Kemenangan Indonesia sebagai juara umum pada IJSO bukan semata-mata kita tuan rumah, tetapi memang karena kemampuan yang baik dari delegasi Indonesia yang benar-benar sudah terseleksi," kata President IJSO, Prof. Dr. Masno Ginting, usai acara pengumuman pemenang dan penyerahan medali di Gedung Rama dan Shinta, Dunia Fantasi (Dufan) Ancol, Jakarta, Senin (13/12).

Kategori the best experimental winner diraih Stephanie Senna, siswi SLTPK IPEKA Tomang Jakarta dan absolute winner diraih Diptarama, siswa SLTPN 252 Jakarta. Sementara, kategori overall winner diraih kontingen Indonesia 1.

Selain Stephanie Senna dan Diptarama, peraih medali emas bagi kontingen Indonesia adalah Achmad Furqon (SMP Bina Insan Bogor, Jawa Barat), Wayan Wicak Ananduta (SLTPN I Bekasi, Jawa Barat), Aziz Adi Suyono (SLTPN 9 Cilacap Jateng), Ria Ayu Pramudita (MTsN Malang I, Jawa Timur), Andika Afriansyah (SLTP Nusantara Makassar, Sulsel), dan William (SLTP Sutomo I Medan, Sumatra Utara).

Sedangkan, untuk empat peraih medali perak meliputi, Petrus Yesaya Samori (SLTPN II Jayapura, Papua), Fransiska Putri Wira H (YPJ Kuala Kencana, Mimika), Carolina Jessica (SLTP Xaverius I Palembang), dan Dewi Kusumawati (SLTPN I Seputih Surabaya, Lampung). Berdasarkan catatan, dengan meraih delapan medali emas itu berarti melebihi target tiga medali emas.

Masno mengatakan, dalam kompetisi tersebut Indonesia sebagai tuan rumah memperoleh keistimewaan dapat menurunkan dua tim sekaligus. Sementara negara peserta lainnya hanya diperbolehkan mengirim satu tim inti dan tim peninjau. Lebih lanjut Masno mengatakan, kemenangan siswa-siswa Indonesia dicapai berkat pembinaan yang yang cukup panjang. Siswa yang dipersiapkan mengikuti ajang kompetisi ini mengikuti pelatihan sekira 10 bulan.

Masno yang juga pembina tim Indonesia menekankan, keberhasilan kontingen Indonesia karena persiapan dan pembinaan yang cukup panjang. "Mereka mengikuti pelatihan sekira sembilan bulan. Mereka dilatih pembina olimpiade internasional, seperti Dr. Johanes Surya dalam bidang fisika," tukasnya.

Mencintai sains

Direktur Pendidikan Lanjutan Pertama (PLP) Ditjen Dikdasmen Depdiknas, Hamid Muhammad, Ph.D., menuturkan, siswa Indonesia yang berhasil merebut medali emas dalam olimpiade sains junior kali ini, selain memperoleh hadiah dan piala, juga sedang dipersiapkan untuk mendapatkan asuransi beasiswa sampai ke jenjang strata satu (S-1). "Secara umum, olimpiade sains junior ini antara lain bertujuan memberikan motivasi kepada anak didik untuk mencintai sains," katanya dalam penyerahan medali.

Di tempat sama, Mendiknas Bambang Sudibyo menuturkan, keberhasilan kontingen IJSO Indonesia ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia tidak buruk. Namun demikian, diakuinya, dengan kondisi ini bukan berarti pendidikan di Indonesia setingkat dengan sekolah-sekolah yang berhasil menghasilkan pemenang-pemenang IJSO.

"Sebagian besar sekolah-sekolah kita masih jauh dari sekolah tersebut. Prestasi ini dicapai oleh anak-anak yang dihasilkan sekolah-sekolah yang relatif mandiri," katanya seraya menambahkan, sekolah-sekolah semacam itu perlu didukung dan kemandirian mereka perlu dilanjutkan.

Bambang menyatakan, ilmu dan aplikasinya sangat penting bagi pembangunan dan peningkatan kualitas hidup. "Diharapkan, dengan olimpiade ini dapat diwujudkan dunia yang lebih baik dan kemudahan bagi seluruh masyarakat di dunia," jelasnya.

Dalam pertemuan pengurus IJSO diputuskan, untuk tahun 2005 Indonesia kembali menjadi tuan rumah IJSO. Hanya, pelaksanaannya bukan lagi di Jakarta. Menurut Direktur Pendidikan Lanjutan Pertama (PLP) Ditjen Dikdasmen Depdiknas, Hamid Muhammad, Ph.D., terdapat dua alternatif kota atau daerah yang akan menjadi tempat berlangsung IJSO II 2005 mendatang, yaitu Yogyakarta atau Bali.

Selain itu, pertemuan pengurus IJSO juga memutuskan, untuk penyelenggaraan IJSO tahun 2006 akan dilangsungkan di Brasil. Lalu, tahuh 2007 di Taiwan, tahun 2008 akan berlangsung di salah satu negara Eropa, tahun 2009 di Korea Selatan, dan tahun 2010 di Nigeria.(A-94)***

[+/-] Selengkapnya...

50 Juara Olimpiade Sains Kabur

Jakarta, BPost. Tanpa disadari, sejak tahun 1993 sudah 50 juara olimpiade Sains Nasional (OSN) asal Indonesia direkrut Singapura melalui program beasiswa di berbagai Universitas di negara itu. Sementara itu, Dapartemen Pendidikan Nasional tidak dapat berbuat apapun dan hanya mendata larinya para ahli sains ke negeri orang lain.

Ke-50 para juara olimpiade di antaranya ditampung di Nangyang Technological University dan Nasional University of Singapore. Larinya para juara OSN ini terungkap pada perhelatan OSN yang berlangsung 4-9 September 2005 di Hotel Bidakara, Jakarta.

Jika tidak diantisipasi, maka para juara OSN tahun ini, juga akan diambil negara lain. Sebagai mitra utama OSN, Sampoerna Foundation berusaha menyelamatkan juara OSN 2005 dengan memberikan beasiswa kepada pemenang OSN dengan tujuan agar calon invetor tidak hijrah ke negara lain.

"Bayangkan bila ada puluhan lagi anak yang cerdas pindah ke negeri orang lain. Indonesia benar-benar rugi besar," kata Direktur Komunikasi Sampoerna Foundation Sapto H Sakti, Selasa (6/9).

Menurutnya, Sampoerna Foudation mengajak semua pihak khususnya dunia industri untuk tergerak memberikan penghargaan yang sepadan kepada para calon investor juara olimpiade Sains. Singapura sangat paham pentingnya penguasaan Iptek dalam pembangunan industri mereka.

"Jangan hanya peserta lomba popularitas saja yang diberi perhatian dan pengargaan esktra," katanya.

Pada OSN ke-4 ini, diikuti 1.110 siswa terbaik dari 32 propinsi di Indonesia. OSN tingkat SD akan mempertandingkan dua mata pelajaran, yakni Matematika dan IPA. Sementara untuk tingkat SMP akan dipertandingkan tiga mata pelajaran (Matematika, fisika dan biologi). Sedangkan untuk tingkat SMU, ada enam mata pelajaran yang dipertandingkan (Matematika, fisika, biologi, kimia, komputer/informatika dan astronomi).

Kepada para pemenang disediakan beasiswa oleh Sanpoerna Foundation mencakup beasiswa strata satu (SI) bagi 25 siswa pemenang mendali emas, masing-masing lima orang untuk studi mataematika, fisika, biologi dan komputer/informatika.

Selain itu, Sampoerna Foundation juga menyediakan berbagai material pendukung dari mulai kaos hingga tas yang akan digunakan setiap kontigen OSN. Pemenang dipersilahkan memilih salah satu perguruan tinggi nasional terbaik yang direkomendasikan seperti Universitas Airlangga, UGM, UI, Unpad, ITB, Insitut Teknologi 10 Nopembers dan IPB untuk melanjutkan pendidikan kejenjang SI pada bidang studi ekonomi, bisnis, menjeman dan sain/teknologi terapan.JBP/sin

[+/-] Selengkapnya...

 

© 2007 Jaringan Pamong Praja Indonesia: Anak Bangsa | Design by RAM | Template by : Unique